Selasa, 03 November 2020

BAB VI

MENGHINDARI SIKAP TERCELA

MELALUI KISAH TSA’LABAH


A. Kisah Tsa'labah

        Ketika miskin Tsa'labah dikenal sebagai seorang sahabat Rasululah yang tekun beribadah.  Tsa'labah ingin didoakan Rasulullah SAW menjadi orang kaya karena sudah bosan menjalani hidup yang serba kekurangan. Setelah kaya raya, Tsalabah yang dulu setiap shalat lima waktu selalu berjamaah di masjid, sekarang hanya datang ke masjid pada waktu shalat zuhur dan Ashar saja. Ia tidak pernah menyerahkan shadakahnya sedikitpun. Setelah Allah menurunkan ayat tentang kewajiban zakat. Rasulullah mengutus dua orang sahabat untuk menjadi amil zakat. Seluruh umat Islam di Madinah yang hartanya dipandang sudah nishab zakat didatangi, tak terkecuali Tsa‟labah pun mendapat giliran. Kedua utusan Rasulullah membacakan ayat zakat di hadapan Tsa‟labah. Kemudian setelah dihitung dari seluruh harta kekayaannya ternyata memang banyak harta Tsa‟labah yang harus diserahkan sebagai zakat. Tak disangka, Tsa‟labah mukanya berubah merah, ia berang tidak mau memayar zakat.

        Kemudian Allah menurunkan ayat 75 dalam surat at Taubah, tentang ciri-ciri orang munafik. Tsa‟labah tertegun, ia baru sadar bahwa nafsu angkara murka telah lama memperbudaknya. Kini ia bergegas menghadap Rasulullah dengan membawa zakat dari seluruh hartanya. Namun Rasulullah tidak berkata apa-apa kecuali hanya sepatah kata, “Sebab kedurhakaanmu, Allah melarangku untuk menerima zakatmu!”

        Tsa‟labah berjalan lunglai kembali kerumahnya. Hari-hari dalam hidupnya hanya dipenuhi dengan penyesalan yang tiada arti. Sampai suatu hari terdengar kabar Rasulullah telah wafat, ia semakin bersedih karena taubatnya tidak diterima oleh Rasulullah hingga beliau wafat.

        Tsa‟labah mencoba mendatangi khalifah Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah. Ia datang dengan membawa zakatnya. Apakah Abu Bakar menerimanya? Abu Bakar hanya berkata, “Rasulullah saja tidak mau menerima zakatmu, bagaimana mungkin aku menerima zakatmu?”

        Demikian pula di jaman kekhalifahan Umar bin Khattab, Tsa‟labah mencoba menyerahkan zakatnya. Umar pun tidak mau menerima sebagaimana Rasulullah dan Abu Bakar tidak mau menerima zakatnya. Bahkan sampai khalifah Utsman bin Affan juga tidak mau menerima zakat Tsa‟labah karena Rasulullah, Abu Bakar dan Umar tidak mau menerima zakatnya.

        Demikianlah kisah Tsalabah, Allah sangat murka kepada orang yang berakhlak tercela, seperti tergambar dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 75-78

B. Mengambil hikmah dari kisah Tsa'labah

Tsalabah adalah orang yang melupakan janjinya. Ketika diuji dengan hewan ternak yang banyak, Tsalabah lupa mengerjakan shalat berjamaah di masjid bersama Rasulullah Saw. Bahkan lupa mengerjakan Shalat Jumat karena kesibukannya mengurus hewan ternak.Selain melupakan janjinya, Tsalabah juga enggan membayar zakat. Tsalabah termasuk orang yang tidak mentaati Allah Swt. dan Rasulnya. Tsalabah juga termasuk orang yang tamak, sombong, dan kufur nikmat. Setelah hewan ternaknya banyak, waktunya hanya dipergunakan untuk mengurusi hewannya dan memikirkan bagaimana supanya ternaknya terus bertambah dan bertambah.

Sebagai anak muslim harus menghindari sifat-sifat tercela yang dimiliki oleh Tsalabah, diantaranya dengan cara: menjaga mulut telinga, mata, tangan dan hati kita agar selalu mengingat kebesaran Allah Swt. Menyadari bahwa akhlak tercela akan menyiksa diri kita sendiri. Menyadari bahwa ingkar janji akan mendatangkan laknat Allah Swt

Adapun hikmah yang dapat kita ambil dari kisah Tsa‟labah adalah:

1.      Selalu beribadah baik ketika sempit maupun lapang.

2.      Selalu syukur nikmat terhadap apa yang dikaruniakan Allah Swt.

3.      Menghindari sifat takabur dan kikir.

4.      Beribadah hanya karena Allah Swt. dan

Selalu menepati janji serta taat kepada Allah Swt.


Rangkuman

* Akhlak tercela dapat membahayakan dan merugikan diri sendiri dan orang lain.

* Sifat-sifat tercela, yang dimiliki Tsa‟labah, antara lain tidak menepati janji, kikir, sombong, kufur nikmat, dan dzalim

* Kufur nikmat berarti mengingkari pemberian Allah Swt. dengan cara menyalahgunakannya, melalaikannya, atau memakainya untuk jalan yang dibenci (tidak diridhai) oleh Allah Swt.

* Ibadah yang dilanggar Tsa‟labah adalah zakat dan salat.

* Akibat berperilaku tercela

a. dimurkai Allah Swt.

b. tidak disenangi sesama

c. kesengsaraan di dunia dan azab di akhirat

* Hikmah yang dapat diambil dari kisah Tsa‟labah
a. Selalu beribadah, baik ketika sempit maupun lapang
b. Selalu syukur nikmat terhadap apa yang dikaruniakan Allah Swt.
c. Menghindari sifat takabur dan kikir
d. Beribadah hanya karena Allah


Minggu, 25 Oktober 2020

AKIDAH AKHLAK BAB V - INDAHNYA BERPERILAKU TERPUJI

BAB V

INDAHNYA BERPERILAKU TERPUJI

A. Kisah Bilal Bin Rabbah

KETEGUHAN DAN KETABAHAN BILAL BIN RABBAH

                Namanya adalah Bilal bin Rabah, muazin Rasulullah SAW.  Bilal lahir di daerah as-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijrah. Ayahnya bernama Rabah, sedangkan ibunya bernama Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Mekah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan sebutan ibnus- Sauda‟ (putra wanita hitam). Bilal dibesarkan di kota Ummul Qura (Mekah) sebagai seorang budak milik keluarga bani Abduddar. Saat ayah mereka meninggal, Bilal diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh penting kaum kafir.

                Ketika Mekah diterangi cahaya agama baru dan Rasul yang agung Saw. mulai mengumandangkan seruan kalimat tauhid, Bilal termasuk orang-orang pertama yang memeluk Islam. Saat Bilal masuk Islam, di bumi ini hanya ada beberapa orang yang telah mendahuluinya memeluk agama baru itu, seperti Ummul Mu‟minin Khadijah binti Khuwailid, Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abu Thalib, Ammar bin Yasir bersama ibunya, Sumayyah, Shuhaib ar-Rumi, dan al-Miqdad bin al-Aswad. Bilal merasakan penganiayaan orang-orang musyrik yang lebih berat dari siapa pun. Berbagai macam kekerasan, siksaan, dan kekejaman mendera tubuhnya. Namun ia, sebagaimana kaum muslimin yang lemah lainnya, tetap sabar menghadapi ujian di jalan Allah.

            Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf bersama para algojonya. Mereka menghantam punggung telanjang Bilal dengan cambuk, namun Bilal hanya berkata, “Ahad, Ahad … (Allah Maha Esa).” Mereka menindih dada telanjang Bilal dengan batu besar yang panas, Bilal pun hanya berkata, “Ahad, Ahad ….“ Mereka semakin meningkatkan penyiksaannya, namun Bilal tetap mengatakan, “Ahad, Ahad….”








BAB IV AKIDAH AKHLAK - INDAHNYA BERPERILAKU AMANAH

 









Jumat, 16 Oktober 2020

Akidah Akhlak BAB III Beriman Kepada Kitab-Kitab Allah

 BAB III

BERIMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH


A. Mengenal Kitab Allah SWT

KITAB ZABUR 

  • Zabur artinya tulisan
  • Diturunkan kepada Nabi Daud
  • Berisi tentang : beberapa Dzikir, Pengajaran dan Hikmah. Kitab Zabur merupakan petunjuk atau wahyu dari Allah untuk Bani Israil.

KITAB TAURAT

  • Taurat artinya Syariat/Perintah
  • Diturunkan kepada Nabi Musa As
  • Berisi tentang: keyakinan untuk menyembah Allah Swt serta larangan menyembah berhala. Taurat juga menjelaskan perihal tentang kabar gembira atas kedatangan Nabi Muhammad SAW

KITAB INJIL

  • Injil artinya kabar gembira 
  • Diturunkan kepada Nabi Isa 
  • Berbahasa Yunani
  • Berisi tentang: keterangan dan ajaran –ajaran yang membenarkan atau memperkuat ajaran yang terdapat pada kitab-kitab sebelumnya.

AL QUR'AN

  • Al-Quran artinya bacaan
  • Diturunkan kepada nabi Muhammad Saw 
  • Berbahasa Arab
  • Berisi tentang : akidah dan keimanan , ibadah, penciptaan manusia, kisah-kisah, hubungan manusia dengan Allah dan petunjuk untuk keluarga, bermasyarakat dan bernegara.




B. Meyakini Kitab-Kitab Allah

Meyakini Kitab-kitab Allah Swt. berarti mempercayai bahwa Allah Swt. menurunkan ajaran-ajaran-Nya dalam sebuah kitab kepada para nabi dan rasul untuk dijadikan petunjuk bagi umat manusia. Kewajiban manusia terhadap Kitab-kitab Allah Swt. Di antaranya adalah:

a.  Mempercayai adanya empat Kitab-kitab Allah Swt.

b.  Mempercayai bahwa seluruh kitab tersebut datangnya dari Allah Swt.

c.  Membenarkan berita-berita tentang Kitab-kitab terdahulu dalam Al-Quran.

d.  Mengamalkan hukum-hukum dari al-Quran

Kitab yang diturunkan kepada Nabi dan Rasul, menjadi petunjuk bagi umatnya masing- masing. Namun setelah datangnya al-Quran maka semua umat manusia harus mengikuti al- Quran, karena al-Quran merupakan penyempurna syariat dan ajaran umat-umat sebelumnya.

Hikmah beriman kepada Kitab-kitab Allah Swt. diantaranya:

a.       Menyadari bahwa Allah Swt. sangat sayang kepada kita sehingga harus banyak bersyukur.

b.      Selalu melaksanakan perintah Allah Swt. dan menjauhi segala larangan larangan-Nya, karena kita tahu hukum-hukum yang ditetapkan Allah Swt.

c.       Meyakinkan kita bahwa Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia. Mengetahui kebesaran dan keagungan Allah Swt. melalui kitab-kitab yang diturunkan-Nya


Hikmah beriman kepada Kitab-kitab Allah SWT :

  • Menyadari bahwa Allah SWT sangat sayang kepada kita sehingga harus banyak bersyukur
  • Selalu melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya, karena kita tahu hukum-hukum yang ditetapkan Allah SWT.
  • Meyakinkan kita bahwa Islam adalah agama untuk seluruh umat manusia
  • Mengetahui kebesaran dan keagungan Allah SWT, melalui kitab-kitab yang diturunkan-Nya


HIKMAH

  • Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur‟an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya ) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara meraka menurut apa yang telah Allah Swt turunkan dan janganlah kamu menuruti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah Swt menghendaki , niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah Swt hendak menguji kamu terhadap pemberian- Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan, hanya kepada Allah lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan – Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. ( al-Quran surah al-Maidah : 48 )
  • Barang siapa yang membaca satu huruf al-Quran maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan dibalas sepuluh kebaikan, aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf mim satu huruf (HR. Timidzi)

Senin, 05 Oktober 2020

BAB II - AKIDAH AKHLAK

BAB II

MENGENAL ALLAH MELALUI ASMAUL HUSNA


Asmaul Husna adalah nama-nama yang dimiliki oleh Allah Swt sebagai penggambaran dari sifat-Nya. Rasulullah Saw sendiri menggambarkan betapa pentingnya bagi seorang muslim untuk mengenali nama-nama-Nya hingga dijanjikan meraih surga.

A. Mengenal Sifat Allah Al Malik

Allah Swt yang Maha Merajai Seluruh Alam

        Al-Malik ( yang Maha Merajai ) artinya Allah Swt berkuasa atas segala sesuatu, baik dalam hal memerintah ataupun melarang. Selain itu, al-Malik juga bermakna yang memiliki segala sesuatu. Dia tidak membutuhkan kepada sesuatupun, tapi sebaliknya, segala sesuatu membutuhkan-Nya.


Kekuasaan dan kerajaan Allah Swt itu sempurna dan tidak terbatas. Kekuasaan-Nya itu Maha Tinggi, tidak dapat disentuh dan dipengaruhi oleh siapa pun. Allah Swt sebagai pemberi sekaligus pencabut kekuasaan makhluk-Nya, termasuk kekuasaan manusia yang bersifat duniawi. Oleh karena itu, sebagai hamba Allah Swt manusia harus bersikap rendah hati, tidak sombong, tidak semena-mena, tidak angkuh dengan kekuasaan yang bersifat semu dan sementara seperti: kekuasaan politik, jabatan kementerian, kepemimpinan pada sebuah institusi, kepengurusan pada sebuah organisasi atau partai dan sebagainya.


B. Mengenal Sifat Allah AL-Quddus

Allah Yang Maha Suci

Yang dimaksud nama Allah „Al Quddus‟ adalah Dia bersih dari segala macam kekurangan dan „aib serta kesalahan. Artinya Allah Swt amat jauh dari sifat-sifat jelek dan lebih pantas menyandang sifat-sifat baik nan mulia.

Al Quddus berarti Maha Suci. maka Allah Swt menyukai kebersihan dan kesucian. oleh karena itu kita sebagai manusia hendaklah selalu dalam keadaan bersih, misalnya kita diwajibkan berwudlu sebelum shalat. Untuk menghadap Allah Swt. Tubuh harus bersih dari kotoran dan najis. Menyucikan pikiran kita dari niat buruk, prasangka buruk, dan nafsu yang kotor, karena niat buruk akan menghasilkan kejahatan sedangkan nafsu yang kotor akan menghasilkan kemaksiatan.

Hikmah dari sifat al Quddus adalah,

1.      Kita dapat menikmati apa pun tanpa prasangka buruk karena Allah Swt berdasarkan prasangka hamba-Nya. Yang terpenting kejadian apapun yang menimpa harus mengubah kita menjadi lebih baik,

2.      Siap dengan ketidak sempurnaan diri.

3.      Siap dengan segala kekurangan orang lain


C. Mengenal Sifat Allah Al ‘Aziz

ANYA ALLAH LAH YANG MAHA PERKASA

Al-„Aziz merupakan salah satu asma‟ul husna Allah. Al-„Aziz berarti Allah Swt. Maha Perkasa. Dia dapat berbuat sesuai dengan kehendak-Nya. Jika Dia menghendaki banjir terjadi, banjir itu pun akan terjadi. Jika Allah Swt. menghendaki hujan yang turun berhenti sesaat, hal itu pasti terjadi. Bahkan, ketika Dia berkehendak turun hujan, ketika matahari bersinar, hal itu pun pasti terjadi. Demikianlah, kehendak Allah Swt. pasti terwujud.

Allah Swt. pastilah zat Yang Maha Perkasa. Dia telah menciptakan alam dan seluruh isinya tanpa bantuan siapa pun. Dia juga sendirian dalam mengatur makhluk-Nya. Zat yang mampu melakukan hal tersebut tentulah Zat Yang Maha Perkasa.

Kekuatan serta keperkasaan Allah Swt melebihi serta mengatasi segala kekuatan dan keperkasaan yang ada di alam semesta ini. Oleh karena itu tidak akan mungkin dapat dihadapi dan dilawan oleh kekuatan serta keperkasaan yang bagaimana pun juga hebatnya.

Allah Swt berfirman dalam QS. Yasin ayat 1-5 yang menunjukkan bahwa diriNya yang memiliki Maha Keperkasaan dan Maha kasih sayang.

Berkaitan asma‟ul husna al-„Aziz yang harus kita lakukan dalam kehidupan sehari hari adalah memiliki sikap tegar dalam menghadapi segala masalah. Tegar dalam menuntut ilmu, menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan menghadapi musibah yang datang, serta selalu memiliki akhlak dan watak “izzah” (kuat, tangguh) dalam menggapai cita-cita






Jumat, 02 Oktober 2020

AKIDAH AKHLAK BAB I

 BAB I

INDAHNYA KALIMAT TAYYIBAH


A. SUBHANALLAH

        Kalimat “Subhanallah” yang mempunyai arti Maha Suci Allah. Secara bahasa ungkapan subhanallah berarti aku menyucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak untuk-Nya.

        Ketika seseorang menyaksikan atau mendengarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keagungan Allah Swt. maka seseorang dianjurkan untuk mengungkapkan “Subhanallah”. Tujuannya adalah untuk menyucikan Allah dari berkurangnya keagungan-Nya, atau menyucikan Allah dari sifat-sifat kekurangan.

        Kalimat Subhanallah disebut juga bacaan tasbih. Kalimat tasbih adalah ungkapan untuk memuji Allah Swt. Zat yang paling suci di alam semesta ini hanyalah Allah Swt, maka sesuai dengan artinya, kalimat ini mengandung makna penyucian nama dan Zat Allah Swt. Nama Allah harus tetap suci dari segala bentuk kemusyrikan dan kekurangan. Karena Allah-lah pemilik segala kesempurnaan.

        Semua yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah Swt, memuji kebesaran Allah Swt. Firman Allah dalam surah al-Jumuah:1


        Bertasbih artinya mengakui keagungan Allah Swt. tidak ada yang berkuasa selain Allah Swt dan mengakui kelemahan serta keterbatasan kita sebagai manusia yang tidak memiliki daya dan kekuatan.


        Kalimat tayyibah Subhanallah juga diucapkan ketika mengingatkan imam dalam salat ketika lupa bacaan atau gerakan salat bagi makmum laki-laki, berzikir sesudah salat fardhu, dan mendengar kejadian luar biasa.


        Dengan bertasbih akan mendekatkan diri kepada Allah Swt, menambah keimanan kepada Allah Swt, menambah pahala, dan menjauhkan diri dari perbuatan syirik.


B. MASYAA ALLAH

        Kalimat “Masya Allah” yang artinya Allah Swt telah berkehendak akan hal itu. Kalimat terebut diucapkan ketika melihat sesuatu atau kejadian yang indah maupun menakjubkan, Contohnya, ketika melihat bangunan yang indah dan megah, memasuki kebun yang cantik, teknologi yang canggih, prestasi yang membanggakan, fisik yang kuat, melihat keindahan pemandangan alam, orang yang cantik atau tampan, serta mukjizat-mukjizat, dan karomah.


        Masya Allah diungkapkan untuk menunjukkan kekaguman seseorang atau kejadian yang digunakan sebagai ekspresi penghargaan. Sementara dalam waktu yang sama juga sebagai pengingat bahwa semua pencapaian bisa terjadi karena kehendak Allah Swt.

C. ALLAHU AKBAR

        Allahu Akbar artinya Allah Maha Besar yang disebut juga bacaan takbir. Allah Swt adalah Zat Yang Maha besar. Penciptaan alam semesta dan seluruh isinya telah cukup menjadi bukti kebesaran Allah Swt. Mengagungkan kebesaran Allah Swt menjadi kewajiban setiap muslim. Mengingat kebesaran Allah Swt dapat menghindarkan manusia dari sifat sombong.
        Salah satu cara mengingat kebesaran Allah Swt adalah dengan membiasakan diri mengucapkan Allahu Akbar. Allah Swt sanggup menjadikan segala hal yang tidak mungkin menurut kita menjadi mungkin. Bagi Allah Swt, sangatlah mudah menjadikan hal tersebut. 
        Allah Swt berfirman dalam Surah Yasin ayat 82:

        Banyak bukti yang menunjukkan bahwa Allah Swt itu Maha Besar. Misalnya, penciptaan alam semesta dengan seluruh isinya, penciptakan matahari dan bulan, keduanya berfungsi berjalan pada orbitnya masing- masing dan tidak pernah berbenturan. Allah Swt menciptakan langit dan bumi. Bumi diciptakan sebagai hamparan dan langit diciptakan di atas bumi tanpa memiliki tiang penyangga.

        Allahu Akbar juga sering diteriakkan oleh pahlawan yang berjuang menegakkan agama Allah Swt, misalnya para pahlawan yang melawan penjajah Belanda. Teriakan Allahu Akbar dapat membangkitkan semangat juang melawan kezaliman. Di penghujung puasa Ramadan, pada malam Hari Raya Idul Fitri seluruh umat Islam berama-sama mengagungkan kebesaran Allah Swt dengan gema takbir. Selain itu kalimat tayyibah Allahu Akbar juga diucapkan ketika mengumandangkan azan dan iqomah.



Selasa, 29 September 2020

FIKIH BAB III

BAB III

MANDI WAJIB SETELAH HAID DAN IHTILAM


        Hadas adalah keadaan tidak suci pada pada diri seorang muslim yang menyebabkan ia tidak boleh shalat, tawaf dan lain sebagainya. Hadas dibagi menjadi dua yaitu hadas besar dan hadas kecil. Hadas besar adalah hadas yang dapat disucikan dengan mandi wajib sementara hadas kecil adalah hadas yang dapat disucikan dengan berwudu. Yang termasuk hadas besar contohnya yaitu:

1.      Haid

2.      Ihtilam(mimpi basah)

3.      Melahirkan (wiladah)

4.      Nifas (keluar darah sesudah melahirkan)

            Mandi ada tiga macam yaitu mandi wajib, mandi sunnah dan mandi biasa. Mandi wajib adalah mandiyang wajib dilaksanakan ketika seseorang hendak menunaikan shalat, tawaf, menyentuh mushaf al-Qur‟an, dan lainnya disebabkan orang tersebut sedang dalam kondisi berhadas besar. Jika seseorang yang berhadas besar belum mandi wajib, maka ia dikatakan masih berhadas besar.

                Tujuan mandi wajib berbeda dengan mandi mubah (mandi biasa) dan mandi sunnah. Mandi wajib dilakukan untuk menghilangkan hadas besar sementara mandi biasa dilakukan untuk membersihkan dan menyegarkan tubuh. Adapun mandi sunnah dilaksanakan untuk mengikuti sunnah Rasulullah seperti mandi ketika hendak berangkat shalat Jumat, shalat Idul Fitri, shalat Idul Adha, memasuki kota Makkah, atau setelah sadar dari pingsan.

A. Tata Cara Bersuci dari Hadas Besar

        Cara bersuci dari hadas besar dapat dilaksanakan dengan mandi wajib. Bagaimana tata cara mandi wajib itu? Dalam melaksanakan mandi wajib untuk bersuci dari hadas besar tidak bisa kita lakukan secara sembarangan. Mandi wajib mempunyai tata cara tertentu. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar mandi wajib menjadi sah. Apa saja hal-hal yang harus kita perhatikan saat mandi wajib? Hal- hal yang harus kita perhatikan saat mandi wajib antara lain: 

1. Rukun mandi wajib

            Rukun adalah sesuatu yang harus dipenuhi untuk sahnya suatu pekerjaan. Rukun mandi wajib artinya, sesuatu yang harus dipenuhi agar mandi wajibnya sah. Jadi apabila mandi wajib tidak memenuhi salah satu rukunnya maka mandi wajibnya menjadi tidak sah. Rukun mandi wajib ada 2 yakni:

a. niat

            Niat mandi wajib tidak harus diucapkan. Niat boleh dilakukan di dalam hati, namun mengucapkan niat hukumnya sunnah. Oleh karena itu, akan lebih baik jika niat mandi kita lafalkan. Niat mandi wajib dilaksanakan pada saat awal mengguyurkan air ke badan. Jadi dalam mandi wajib, kita dihitung mulai mandi wajib saat melaksanakan niat. Adapun anggota badan yang sudah kita basahi sebelum niat, maka anggota badan tersebut belum dianggap disucikan dengan mandi wajib.

            Mengingat niat merupakan rukun mandi wajib, artinya jika kita mandi wajib namun lupa tidakberniat maka mandi wajib kita tidak sah sehingga kita masih dalam kondisi berhadas besar. Jika kita masih berhadas besar, tentunya kita belum bisa melaksanakan shalat, membaca dan menyentuh al- Qur‟an, dan sebagainya. Nah oleh karena itu, jangan sampai kita lupa berniat saat mandi wajib.

Niat Mandi wajib


b. meratakan air ke seluruh tubuh

            Rukun mandi wajib yang kedua adalah meratakan air ke seluruh tubuh. Ini berarti apabila kita mandi wajib namun ada anggota badan yang masih kering artinya mandi wajib kita belum bisa dikatakan sah. Oleh karena itu, apabila kita melihat ada anggota badan kita yang masih kering setelah mandi wajib, kita wajib membasuhnya.

       Air yang digunakan untuk mandi wajib haruslah air yang suci dan menyucikan. Oleh karena itu, tidak sah mandi menggunakan air yang najis atau air yang telah bercampur dengan sesuatu yang dapat mengubah warna, rasa atau baunya. Adapun yang perlu kita perhatikan ketika mandi wajib adalah daerah-daerah yang agak tersembunyi yang biasanya tidak bisa basah jika tidak kita perhatikan dengan seksama. Contohnya apabila kita memakai cincin yang pas di jari kita sehingga ketika kita guyur, maka bagian yang tertutup cincin tersebut tidak terkena air. Hal ini bisa menyebabkan mandi kita tidak sah. Oleh karena itu, kita harus benar-benar memastikan bahwa seluruh tubuh kita telah terkena air secara merata.

        Daerah yang perlu kita perhatikan lagi adalah daerah lubang hidung, belakang telinga, lipatan-lipatan pada tubuh, sela-sela jari dan kaki, dan lain- lain.

2. Sunah mandi wajib 

        Sunnah mandi wajib adalah sesuatu yang apabila dikerjakan akan mendapat pahala namun bila tidak dikerjakan tidak berpengaruh pada keabsahan mandi wajib. Artinya mandi wajib kita sudah sah apabila memenuhi rukun-rukun mandi wajib meskipun tidak melaksanakan sunnah-sunnahnya. Meskipun demikian, alangkah baiknya jika kita dapat melaksanakan mandi wajib dengan sempurna sunnah-sunnahnya karena hal tersebut lebih disukai oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya.

        Adapun sunnah mandi wajib antara lain:

  • Membaca basmalah bersamaan dengan niat mandi
  • Membersihkan kedua telapak tangan sebelum memasukan ketempat air
  • Menghilangkan kotoran yang ada pada badan
  • Membersihkan kemaluan atau beristinja‟
  • Berwudu dengan sempurna sebelum mandi
  • Mencelupkan kedua tangan ke dalam air dan siramkan air ke akar - akar rambut kepala
  • Menyiram air ke kepala sebanyak tiga kali dan mengguyurkannya keseluruh tubuh
  • Mendahulukan anggota badan sebelah kanan
  • Tidak meminta tolong kepada orang lain kecuali ada uzur
  • Tidak berbicara kecuali ada kebutuhan

3. Bersegera Mandi Wajib 

        Sebagai seorang Muslim yang sudah balig, kita mempunyai kewajiban shalat tepat pada waktunya. Apabila kita tidak shalat tepat waktu, maka kita akan berdosa. Oleh sebab itu, hendaknya kita senantiasa berhati-hati agar waktu shalat tidak terlewat.

        Bagaimana cara untuk menjaga agar shalat tidak terlewat? Salah satu cara untuk menjaga agar shalat tidak terlewat adalah dengan bersegera mandi wajib setelah ihtilamataupun setelah darah haid berhenti keluar. Jika kita menunda-nunda mandi wajib sehingga ada shalat yang terlewat, maka kita berdosa. Jika kita sudah terlanjur menunda-nunda waktu bersuci sehingga waktu shalat terlewat, maka kita harus mengqadha shalat yang sudah terlewat tadi dan banyak-banyak meminta ampun kepada Allah Swt.

4. Perbedaan Mandi Wajib, Mandi Biasa dan Mandi Sunnah 

        Terdapat beberapa kategori mandi, yaitu:

a.       Mandi wajib

        Mandi wajib adalah mandi yang kita laksanakan untuk menyucikan diri dari hadas besar. Hukumnya wajib artinya jika tidak kita lakukan maka berdosa.

b.      Mandi Sunnah

        Banyak sekali contoh mandi sunnah dalam Islam. Contohnya adalah mandi Jum‟at, mandi sebelum shalat Idul Adha dan shalat Idul Fitri, mandi sunnah taubat, dan lain-lain.

c.       Mandi Biasa

Mandi biasa adalah mandi yang biasa kita laksanakan sehari dua kali.


B. Hikmah Mandi Wajib  

1.       Mendapatkan pahala dari Allah Swt. 

            Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:

        Berdasarkan hadis tersebut, dapat kita simpulkan bahwa bersuci memiliki nilai ibadah di sisi Allah Swt. sehingga bersuci merupakan suatu hal yang berpahala.

2.       Menjaga Kebersihan Badan

        Praktik mandi wajib dilakukan dengan membersihkan seluruh badan sehingga mandi wajib juga merupakan sebuah cara untuk menjaga kebersihan badan.

3.       Menumbuhkan rasa semangat

        Badan yang kotor cenderung membuat kita letih lesu. Mandi membuat badan terasa segar sehingga dapat menghilangkan rasa lemah, letih dan lesu yang kita rasakan dan menumbuhkan rasa semangat.

4.       Meningkatkan Kepercayaan Diri

        Jika badan kita bersih, kita akan lebih percaya diri dalam melaksanakan kegiatan kita sehari-hari.

5.       Memberi rasa nyaman kepada orang lain

        Dengan badan yang bersih, orang akan senang berada di dekat kita